February 9, 2017

MAAFKAN AKU SALAK!

                                                         
Pada hari minggu tanggal 05 Februari 2017, saya menemukan pohon salak setinggi 25 cm di kebun bambu. Tidak lagi banyak berpikir, saya langsung mengambil cangkul dan wadah. Saya memindahkan pohon salak tersebut ke pekarangan di pinggir rumah. Agar pohon salak bisa menyesuaikan diri dengan kesuburan tanah, tidak lupa saya ambil seember tanah dari kebun bambu tempat salak tersebut tumbuh. Kemudian setelah saya tanam, pohon salak disiram secukupnya agar tidak mengalami pengeringan pada daun.

Keesokan harinya saya seperti biasa mengamati pertumbuhan setiap bunga dan tanaman yang saya budidayakan. Saya merasa bahagia karena pohon salak tersebut terlihat segar dan saya anggap tumbuh dengan baik. 

Tadi pagi saya melihat pohon salak tersebut mulai layu daunnya, dan terlihat seperti tidak tumbuh dengan baik. Saya mulai merasa cemas dan khawatir takut pohon salak tersebut mati. Saya langsung menyiramnya dengan cairan perangsang tumbuhnya akar dan daun. Dalam hati saya bertanya, apakah ada proses pemindahan tanaman yang salah? Sampai tadi sore saya belum menemukan jawabannya.

Beberapa menit yang lalu saya berpikir dan teringat bahwa ketika saya mencabut pohon salak dari kebun bambu, ada sebagian akar tunggal yang potong. Ya, kemungkinan terbesar dari kering dan layunya daun salak karena ada akar pohon yang rusak sehingga tidak bisa menyerap air dan unsur hara dari dalam tanah. Potongnya akar menyebabkan terganggunya proses fotosintesis pada daun.

Sampai saat ini saya merasa bersalah. Pohon salak yang sedang tumbuh dengan baik dan "bahagia" telah saya "bunuh". Maafkan aku salak. Aku tidak bermaksud menyakitimu....

No comments:

Post a Comment

ENTRI UNGGULAN

MiniTani Sebagai Solusi di Saat Pandemi

"Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman". Nah, itulah sekelumit lirik lagu "kolam sus...